Sabtu, 09 Oktober 2010

BEKERJA CERDIK

Bukan sekeras apa kita bekerja, yang penting secerdik apa kita bekerja.


Seorang laki-laki diberitahu bahwa kalau dia bekerja paling keras dia akan
menjadi kaya. Pekerjaan yang paling keras yang diketahuinya adalah
menggali lubang, maka ia mulai menggali lubang yang paling besar di
halaman belakang rumahnya. Dia tidak menjadi kaya ; dia hanya sakit
pinggang. Dia bekerja keras tetapi bekerja tanpa prioritas.

1. Yang baik adalah musuh yang terbaik
Kebanyakan orang bisa memprioritaskan kalau dihadapkan dengan persoalan
benar atau salah. Tantangan timbul setelah kita dihadapkan dengan dua
pilihan yang baik.

Seorang penjaga mercu suar yang bekerja di atas garis pantai berbatu -
batu karang menerima persediaan minyaknya yang baru sekali sebulan untuk
menjaga agar mercu suar selalu menyala. Karena tidak begitu jauh dari
pantai, dia sering mendapat tamu. Pada suatu malam seorang wanita dari
desa minta sedikit minyak untuk menjada agar keluarganya tetap hangat.
Pada kesempatan lainnya seorang ayah minta minyak sedikit untuk mengisi
lampunya. Lainnya lagi perlu untuk melumasi roda. Karena semua permintaan
ini rasanya tidak melanggar peraturan, penjaga mercu suar mencoba
menyenangkan setiap orang dan mengabulkan permintaan semuanya. Menjelang
akhir bulan dia memperhatikan persediaan minyaknya sudah tipis sekali.
Segera minyaknya habis, dan mercu suar padam. Malam itu beberapa buah
kapal menabrak karang dan banyak jiwa melayang. Ketika pihak yang berwajib
membuat penyelidikan, penjaga mercu suar sangat menyesal. Menghadapi dalih
dan permohonannya mereka menjawab, “Kau sudah diberi minyak untuk satu
tujuan-menjaga agar mercusuar tetap menyala !”

2. Anda tidak bisa memiliki semuanya.
Sekelompok orang bersiap-siap untuk mendaki ke puncak Mont Blanc di
Pegunungan Alpen di Perancis. Pada sore hari sebelum pendakian, seorang
pemandu Perancis membuat garis besar prasyarat untuk keberhasilan. Dia
berkata “Supaya mencapai puncak, kalian harus membawa hanya perlengkapan
yang diperlukan untuk mendaki. Kalian harus meninggalkan semua peralatan
yang tidak perlu. Ini pendakian yang sulit.”

Seorang pemuda Inggris tidak sependapat dan keesokan paginya muncul dengan
sehelai selimut warna-warni yang agak berat, beberapa potong keju besar,
sebotol anggur, sepasang kamera dengan beberapa lensa tergantung pada
lehernya, dan beberapa batang coklat. Pemandu itu berkata, ”Anda tidak
akan berhasil dengan itu. Anda hanya bisa membawa kebutuhan yang pokok
sekali supaya berhasil mendaki.”
Tetapi karena kemauannya keras, si pemuda Inggris berangkat sendiri di
muka kelompok untuk membuktikan kepada mereka bahwa dia bisa melakukannya.
Kelompok kemudian menyusul di bawah pengarahan pemandu, masing-masing
hanya membawa yang perlu-perlu saja. Dalam pendakian ke puncak Mont Blanc,
mereka mulai memperhatikan benda-benda tertentu yang ditinggalkan
seseorang di sepanjang jalan, Mula-mula mereka menemukan selimut yang
warna-warni, kemudian beberapa potong keju, sebotol anggur, perlengkapan
kamera dan beberapa batang coklat. Akhirnya setelah sampai ke puncak,
mereka menemukan si pemuda Inggris. Dengan bijaksana sepanjang jalan dia
telah membuang segala-galanya yang tidak perlu

3. Terlalu banyak prioritas melumpuhkan kita.
William H. Hinson menceritakan mengapa pelatih binatang membawa sebuah
dingklik (kursi kecil) ketika masuk ke kandang singa. Mereka membawa
cambuk, tentu saja, dan pistol tergantung di pinggang. Tetapi selalu
mereka juga membava sebuah dingklik. Hinso mengatakan itu alat yang paling
penting bagi pelatih. Dia membawa dingklik pada bagian belakangnya dan
menyorongkan kaki dingklik ke muka binatang buas. Mereka yang mengetahui
menyatakan bahwa binatang berusaha berfokus pada keempat kaki dingklik
secara bersamaan. Dalam usaha untuk memusatkan perhatian pada keempat kaki
dingklik, sejenis kelumpuhan menguasai binatang itu, dan binatang itupun
menjadi jinak, dan tidak mampu mengambil tindakan karena perhatiannya
terbagi-bagi.

4. Kalau prioritas kecil menuntut terlalu banyak dari kita, masalah besar
timbul.

Beberapa tahun yang lalu sebuah berita utama menceritakan tentang tiga
ratus ekor paus yang tiba-tiba mati. Paus-paus ini memburu ikan sarden &
mendapatkan dirinya terjebak dalam sebuah teluk. Frederick Boran Harris
memberi komentar,” Ikan kecil memikat raksasa laut ke kematiannya...Mereka
menemui kematian yang mengenaskan karena mengejar tujuan kecil, dengan
melacurkan kekuatan besar untuk tujuan yang tidak penting.”

Seringkali hal-hal kecil dalam kehidupan menyandung kehidupan kita.

Sebuah contoh yang tragis adalah pesawat jumbo jet Eastern Airlines yang
jatuh di rawa-rawa Everglades di Florida. Pesawat itu adalah Penerbangan
401 yang sekarang terkenal, yang terbang dari New York menuju Miami dengan
beban berat penumpang liburan. Sementara pesawat mendekati bandar udara
Miami untuk mendarat, lampu yang menunjukkan pelepasan roda pendaratan
yang semestinya, tidak menyala. Pesawat terbang memutar dalam lingkaran
besar diatas rawa-rawa Everglades sementara kru kokpit memeriksa apakah
roda pendaratan benar-benar tidak turun, atau apakah bola lampu isyaratnya
saja yang rusak.
Ketika ahli teknik penerbangan mencoba melepaskannya, bola lampu itu tidak
mau bergerak, dan anggota kru lainnya berusaha membantunya. Sementara
mereka berkutat dengan bola lampu, tidak ada seorangpun yang memperhatikan
pesawat kehilangan ketinggian, dan pesawat meluncur dalam jatuhnya pesawat
itu. Sementara kru yang terdiri dari para pilot berpengalaman yang bergaji
tinggi repot mengurusi bola lampu berharga tujuh puluh lima sen, pesawat
dengan semua penumpangnya jatuh ketanah.

sumber : Leadership within you (John Maxwell)

Tidak ada komentar: