Jumat, 12 November 2010

BARANG BEKAS JADI EMAS

Barang bekas ternyata memungkinkan sebagai alternatif mendulang rupiah yg tak kalah nilainya dengan mendulang emas. Bagi beberapa orang yang dapat memanfaatkan dan memberi nilai tambah pada barang bekas, mampu menjadikan barang bekas sebagai sumber penghasilan alternatif atau bahkan menjadi yang utama.

Bagi yang kurang memiliki kreativitas memberi nilai tambah pada barang bekas, tidak tertutup peluang untuk mendulang uang. Namun diperlukan kejelian dan ketelatenan mengintip peluang. Langkah pertama adalah mencari informasi pengumpul barang bekas http://www.barangbekas-jadimas.com dan berikutnya adalah mencari informasi pembeli barang bekas.

Berbekal ketelatenan dan perhitungan yang tepat, maka barang bekas dapat menjadi sumber baru untuk mengalirkan uang ke rekening kita

Selasa, 02 November 2010

ANTARA EKSEKUSI DAN TRAGEDI MERAPI

Hampir setiap hari kita menyaksikan berita eksekusi di layar televisi. Apakah itu eksekusi rumah, lahan, gedung dan lain-lain yang intinya perebutan hak. Eksekusi selalu diwarnai jerit tangis pihak tergusur dan beberapa kasus diwarnai tampilnya orang-orang bayaran yang disewa pemenang perkara ataupun pihak yang menduduki lahan.

Pihak Eksekutor PN dan petugas keamanan seringkali dibuat menarik langkah mundur karena perlawanan pihak yang tidak mau atau belum siap untuk meninggalkan obyek sengketa.

Kejadian tersebut sangat bertolak belakang dengan kondisi para korban letusan Merapi.
Begitu Wedus Gembhel turun gunung..... serta merta mereka meninggalkan semua yang sah menjadi miliknya. Rumah, kebun, hewan piaraan dll mereka tinggalkan saat "EKSEKUSI" dilakukan oleh Wedus Gembhel.

Kalau "Eksekusi" yang dilakukan oleh juru sita PN selalu menimbulakan caci maki dan sumpah serapah, bahkan tak jarang bentrok fisik, namun "eksekusi" yang dilakukan Wedus Gembhel membuat para korban menjadi saling tolong menolong, saling berbagi tidak berebut, bergotong royong dan senasib sepenanggungan.

Mungkin Tuhan memberi isyarat agar bangsa ini kembali menjadi bangsa yang saling menyayangi, toleransi, gotong royong, sopan santun dan seabreg warisan etika dan budaya kebersamaan yang telah lama terkikis oleh modernisasi melalui bencana yang bertubi-tubi.

Buruh berteriak mencaci induk semangnya karena himpitan ekonomi yang semakin tinggi ditengah budaya materialistis.
Pengusaha mencari celah untuk bernapas disela himpitan persaingan yang semakin ketat di era liberal.

Mari tumbuhkan kembali budaya kebersamaan, asah.... asih.... asuh..... agar kita tidak menjadi hambaNYa yang tidak dapat menangkap pesan yang telah disampaikan.
Agar Tuhan tidak lagi menambah peringatan bagi kita

Ampuni kami Tuhan

Hanya KuasaMu yang dapat menjinakkan keperkasaan Merapi, Krakatau, Lumpur Lapindo, Gelombang Tsunami..... dan seluruh kekuatan2 di Mayapada ini..... bukan Mbah Marijan.... bukan Tim SAR... bukan peralatan deteksi dini yang kami buat....

.... dari perenungan kegalauan hati.....