Hampir setiap hari kita menyaksikan berita eksekusi di layar televisi. Apakah itu eksekusi rumah, lahan, gedung dan lain-lain yang intinya perebutan hak. Eksekusi selalu diwarnai jerit tangis pihak tergusur dan beberapa kasus diwarnai tampilnya orang-orang bayaran yang disewa pemenang perkara ataupun pihak yang menduduki lahan.
Pihak Eksekutor PN dan petugas keamanan seringkali dibuat menarik langkah mundur karena perlawanan pihak yang tidak mau atau belum siap untuk meninggalkan obyek sengketa.
Kejadian tersebut sangat bertolak belakang dengan kondisi para korban letusan Merapi.
Begitu Wedus Gembhel turun gunung..... serta merta mereka meninggalkan semua yang sah menjadi miliknya. Rumah, kebun, hewan piaraan dll mereka tinggalkan saat "EKSEKUSI" dilakukan oleh Wedus Gembhel.
Kalau "Eksekusi" yang dilakukan oleh juru sita PN selalu menimbulakan caci maki dan sumpah serapah, bahkan tak jarang bentrok fisik, namun "eksekusi" yang dilakukan Wedus Gembhel membuat para korban menjadi saling tolong menolong, saling berbagi tidak berebut, bergotong royong dan senasib sepenanggungan.
Mungkin Tuhan memberi isyarat agar bangsa ini kembali menjadi bangsa yang saling menyayangi, toleransi, gotong royong, sopan santun dan seabreg warisan etika dan budaya kebersamaan yang telah lama terkikis oleh modernisasi melalui bencana yang bertubi-tubi.
Buruh berteriak mencaci induk semangnya karena himpitan ekonomi yang semakin tinggi ditengah budaya materialistis.
Pengusaha mencari celah untuk bernapas disela himpitan persaingan yang semakin ketat di era liberal.
Mari tumbuhkan kembali budaya kebersamaan, asah.... asih.... asuh..... agar kita tidak menjadi hambaNYa yang tidak dapat menangkap pesan yang telah disampaikan.
Agar Tuhan tidak lagi menambah peringatan bagi kita
Ampuni kami Tuhan
Hanya KuasaMu yang dapat menjinakkan keperkasaan Merapi, Krakatau, Lumpur Lapindo, Gelombang Tsunami..... dan seluruh kekuatan2 di Mayapada ini..... bukan Mbah Marijan.... bukan Tim SAR... bukan peralatan deteksi dini yang kami buat....
.... dari perenungan kegalauan hati.....
2 komentar:
kalau soal merapi,tsunami banjir dan lain lain, untuk mengingatkan kita biar ingat dunia ini fana, Jarang sekali orang mendirikan bangunan yang baka. dikiranya masjid, pure dll adalah bangunan baka padahal semuanya fana.pabrik tjiwi suatu saat pasti akan musnah. kalau pemikiran kebanyakan orang mana mungkin, tapi itu pasti.............iki komentnya tukang ojex maaf ya
salut mbah pri atas pencerahan yang berdasar ilmu makrifat....... dunia ini memang fana......
Posting Komentar